KETIKA ASIA MULAI BERTARING





Semakin bertumbuhnya zaman dan tuntutan perubahan, membuat peran ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi signifkan untuk mendongkrak keunggulan bersaing korporasi di dunia. Salah
satu aspek teknologi yang berpengaruh adalah kepemilikan paten atau hak cipta atas penemuan teknologi. Maka bukanlah sesuatu yang mengejutkan jika di masa depan, pertarungan perebutan kepemilikan paten menjadi tajuk berita di media massa.
Periode 2001 - 2006
Pembelanjaan korporasi di China dalam Riset dan Pengembangan Teknologi bertumbuh 23% dalam periode 2001 ñ 2006, sangat jauh dibandingkan Amerika Serikat dan Eropa yang hanya tumbuh 1% hingga 2% dalam periode sama. Pada periode ini juga menggambarkan divergensi yang terjadi di dalam Asia sendiri. Para sesepuh teknologi seperti Jepang dan Taiwan, mulai ditantang China dan India. Pada 2003, European Patent Ofce (EPO) mencatat peningkatan internasionalisasi invensi dari negara-negara Asia, di mana China mengunggah kontribusinya
hingga 45% dan India sekitar 38%. Jepang dan Korea sendiri berkontribusi hanya sekitar kurang dari 10%. Internasionalisasi invensi ini salah satunya diwujudkan dengan pendirian laboratorium seperti Chinese Labs for Foreign Companies.  
Periode 2004
Kontribusi universitas dalam menghasilkan paten meningkat tajam di Jepang, sedangkan di China, korporasi swasta meningkat hampir 50% kontribusinya terhadap aplikasi paten. Secara glo-
bal, pada periode 2004, 80% pendaftaran aplikasi paten dikuasai korporasi.
Periode 2005
Jumlah dokumen pengajuan hak paten di China meningkat 32.9%, sedangkan di India mencapai 1,3%. Jika digunakan perspektif paten yang dihasilkan dari sisi penduduk asli tanpa mengikut-
sertakan temuan korporasi asing, jumlah pengajuan hak paten di China mencapai 42.1%  dan 8% di India.
Periode 2007
Samsung membelanjakan proyek riset dan teknologi jauh lebih besar dibandingkan IBM. Sementara pada tataran Negara, perusahaan Korea mengalokasikan 6.5% PDB pada riset dan teknologi, di mana Jepang dan Eropa hanya 5% dan Amerika Serikat mencapai 8%. Pada periode ini, Chinaís State Intellectual Property Ofce (SIPO) menerima 700.000 aplikasi pengajuan temuan-temuan baru dan menambah jumlah aplikasi yang pernah diproses sejak tahun 1985 yang mencapai 4.000.000 aplikasi.
Dari 700.000 aplikasi tersebut, 450.000 meru-pakan pengajuan untuk utilitas, sedangkan sisanya adalah invensi paten yang baru. Angka ini melonjak drastis salah satunya karena Pemerintah China melalui UU Sains dan Teknologi memperbolehkan peneliti, institusi, maupun universitas untuk memiliki hak paten temuannya walau pendanaan berasal dari riset yang didanai publik. Secara kontras, pada tahun yang sama, India mengalami kemunduran dalam hal pengajuan hak kekayaan intelektual ini. Struktur institusi dan legislasi yang lemah di India membuat 80% dari 30.000 aplikasi yang masuk pada 2007 berasal dari entitas asing.  
Periode 2010
Jepang mencatatkan diri sebagai negara peraih hadiah nobel terbanyak Asia, dengan 7 penghargaan. Bidang nob tersebut antara lain pada fsika (3 orang), kimia (1 orang), fsiologi kesehatan (1 orang), dan 2 orang dalam kajian literatur. India hanya memiliki 3 orang di bidang fsika, dan masing-masing 1 orang di bidang kajian literatur dan ekonomi, sedangkan Pakistan hanya 1 orang di bidang fsika. Raihan nobel ini me-nunjukkan iklim riset dan teknologi yang
berkembang dan  munculnya harapan untuk kontribusinya dalam pertumbuhan korporasi di negara terkait.
April 2011
Apple mengajukan tuntutan hukum kepada Samsung di pengadilan Amerika Serikat untuk pelanggaran hak paten terhadap 4 desain milik Apple yang diduga digunakan oleh Samsung tanpa
izin resmi, yaitu 2 untuk iPhone, 1 untuk iPad, dan 1 untuk iOS. Kasus ini berlangsung cukup panjang, karena Samsung juga mengajukan tuntutan balik atas perangkat paten lainnya. Dua raksasa beda benua ini memberikan gambaran sederhana terjadinya perang serius dalam bidang teknologi dan paten antara Asia dan Barat, untuk memperebutkan mahkota kekuasaan semesta teknologi komunikasi. 
Referensi:
www.apple.co.id” How Asia Can Shape the World: Jorgen Orstrom Moller
(editor MSK)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "KETIKA ASIA MULAI BERTARING"

Posting Komentar